Rasulullah pada
khotbahnya di Wada’ yaitu ibadah haji terakhir yang dilakukan Rasulullah
sebelum beliau wafat : “Perhatikanlah perkataanku ini wahai manusia….,
karena telah kusampaikan. Sesungguhnya, aku tinggalkan kepadamu sesuatu
yang jika engkau berpegang dengannya niscaya kamu tidak akan sesat
selama-lamanya, suatu urusan yang terang nyata, yaitu Kitab Allah dan
Sunnah Rasul-Nya.”
Sunnah adalah segala perkataan dan tingkah
laku Rasulullah, yang diyakini umat islam sebagai contoh sempurna
seseorang dalam menjalankan ajaran Islam. Allah sendiri menyatakan dalam
Al-Qur’an :
21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah. (Al Ahzab)
Maka apabila Al-Qur’an memerintahkan semua pengikutnya untuk melaksanakan shalat :
43.
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta
orang-orang yang ruku’. (Al Baqarah), Misalnya dalam melaksanakan
shalat, juklaknya ada dalam hadist :
Shahih Bukhari : dari Sayyar
bin Salamah, katanya : “Aku datang dengan ayahku kepada Abu Barzah al
Aslami, lalu ayahku bertanya : “bagaimana caranya Rasulullah melakukan
shalat wajib..??”. Jawab Abu Barzah : “Nabi melakukan shalat zhuhur
ketika matahari tergelincir ke barat, shalat ‘asyar ketika kami kembali
dari perjalanan ke ujung kota, sedangkan matahari masih terasa panasnya,
dan nabi lebih suka mengundurkan syalat ‘isya namun tidak menyukai
tidur sebelum shalat ‘isya, dan selesai shalat shubuh ketika seseorang
telah mengenal orang yang duduk disampingnya (sudah ada cahaya matahari
pagi), sedangkan Nabi membaca dalam shalat shubuh tersebut sebanyan 60
sampai 100 ayat), sedangkan untuk shalat magrib Abu Sayyar menyatakan
lupa apa yang diucapkan Rasulullah.
Shahih Bukhari : Ibnu Umar
mengatakan, bahwa Rasulullah bersabda : “Apabila tepi matahari telah
muncul hendak terbit, maka tundalah shalat lebih dahulu hingga matahari
agak tinggi sedikit dari pinggir langit (waktu shalat Dhuha), dan
apabila tepi matahari telah mulai hilang ditepi langit maqka tundalah
shalat terlebih dahulu sehingga matahari itu terbenam sama sekali (waktu
shalat magrib).
Ini juklak tentang perintah shalat dilihat dari
sisi waktunya, adapula hadist tentang tata-cara shalat, hal-hal yang
membatalkan shalat, tempat shalat, dll. JADI TATA CARA RITUAL IBADAH
DALAM ISLAM BUKAN DIKARANG-KARANG SENDIRI, MELAINKAN ADA CONTOHNYA DARI
RASULULLAH, itulah gunanya hadist.
196. Dan sempurnakanlah ibadat haji dan umrah karena Allah. (Al Baqarah)
Juklaknya ada dalam hadist, contohnya ;
Shahih
Muslim : Dari Ya’la bin Umayyah, dari bapaknya, katanya : “Rasulullah
bersabda : “ tanggalkan jubahmu, cuci cat jenggot dan rambutmu. Lalu apa
yang diperbuat dalam haji lakukan pula dalam umrah”. Itu juklak terkait
dengan cat rambut dan pakaian, ada juga juklak soal waktu haji, hal
yang membatalkan haji, dll. JADI UMAT ISLAM TIDAK NGARANG-NGARANG
SENDIRI BAGAIMANA CARANYA MELAKSANAKAN RITUAL IBADAH HAJI, MELAINKAN ADA
PANDUANNYA DARI RASULULLAH, itulah gunanya hadist.
semua ‘juklak’ dari ritual ibadah tersebut dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW sebagai sunnah dan dicatat dalam hadist.
Sunnah
Rasulullah ditemukan dalam hadist, namun tidak semua hadist berisi
Sunnah Nabi, ada juga hadist yang menceritakan tentang ucapan para
sahabat yang bercerita seputar kejadian-kejadian disekitar Rasulullah.
Setelah wafatnya Rasulullah, ditemukan banyak beredarnya hadist-hadist,
termasuk hadist-hadist palsu, yaitu bukan merupakan ucapan dan tingkah
laku Nabi, atau kejadian sebenarnya disekitar Nabi, tapi dikatakan
barasal dari Rasululllah. Umumnya hadist palsu ini digolongkan kepada 3
hal :
1. Diproduksi oleh umat Muslim sendiri dengan tujuan untuk
menyerang Muslim yang lain, yang merupakan lawan politiknya, seperti
pertikaian antara Syiah dengan non Syiah, masing-masing memproduksi
hadist palsu untuk mempengaruhi masyarakat bahwa lawannya adalah
golongan yang bertentangan dengan ajaran Islam, atau menyatakan
golongannya sendiri yang diakui sebagai Islam yang benar.
Contohnya
ada hadist : Rasulullah bersabda : “Hai Ali.., sesungguhnya Allah telah
mengampunimu, keturunanmu, kedua orang tuamu, ahlimu, kelompokmu dan
orang orang yang mencintaimu “. Selain isnadnya yang tidak jelas, isinya
juga bertentangan dengan Al-Qur’an. Atau sebaliknya : Dari Abdullah ibn
Abu Aufa, katanya, saya melihat Nabi sedang bersenda gurau dengan Ali,
tiba-tiba datang Abu bakar dan Umar menghadap beliau, maka Nabi bersabda
: “ Wahai Ali, cintailah mereka, dengan demikian engkau akan masuk
surga”. Ini juga dikategorikan palsu karena peneliti hadist menemukan
isnadnya tidak jelas dan isinya juga ngawur.
2. Diproduksi oleh
Non Muslim yang bermaksud untuk membelokkan ajaran Islam, memproduksi
hadist palsu yang berisi ajaran yang sama sekali tidak diajarkan oleh
Rasulullah, biasanya merupakan ‘infiltrasi’ ajarannya dan dikemas dengan
bunyi hadist yang ‘terlihat Islami’.
Contohnya ada hadist
favorit yang sering dilantunkan netters non Muslim disini yang berbunyi :
“Semua bayi yang baru lahir digoda oleh syaitan, kecuali Isa Almasih
dan ibunya”. Lalu dikatakan ini Shahih Bukhari Muslim, padahal tidak ada
hadist tersebut dalam kitab Shahih Bukhari Muslim, yang ada justru ;
Abu Hurairah mengatakan, Rasulullah bersabda : “Tidak seorang anakpun
yang lahir kecuali dalam keadaan suci bersih. Kedua orang tuanyalah yang
menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. Biasanya
tekhniknya, kedua kalimat ini digabung dan dinyatakan : ini shahih
Bukhari Muslim, padahal yang shahihnya itu kalimat kedua, sedangkan
kalimat pertama ‘dicantelkan’ dan ‘ikut-ikutan’ menjadi shahih.
3.
Ada juga yang memproduksi hadist palsu dengan tujuan yang baik,
maksudnya untuk memperjelas dan memotivasi agar pemeluk Islam makin giat
melaksanakan ajaran Islam. Sekalipun maksudnya baik, tapi karena tidak
memenuhi syarat sanad dan matannya, para peneliti hadikst memasukkannya
kedalam hadist palsu.
Contohnya : “Barang siapa yang mengucapkan
Laa ilaa haa illa Allah, maka untuk setiap kata yang diucapkan itu ia
telah menciptakan seekor burung yang paruhnya terbuat dari emas dan
sayapnya terbuat dari marjan”. Hadist tersebut dikatakan diriwayatkan
oleh Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma’in, namun ketika ditanyakan
kepada kedua ulama tersebut, mereka mengatakan tidak pernah mengeluarkan
atau mendengar dari orang lain hadist yang dimaksud.
Menurut Dr.
syamsuddin Arif. MA dalam jurnal triwulan Al-Insan No.2 Vol 1 thn 2005,
“Perlu diketahui dan senantiasa diingat bahwa umat Islam, khususnya
kaum berilmu alias ulama, dari dulunya (salaf) hingga sekarang (khalaf),
tidak pernah ada yang meyakini dan mengatakan bahwa seluruh hadist yang
ada itu adalah asli atau shahih semua. Sebaliknya, tidak ada pula yang
berkeyakinan bahwa semua hadist yang ada itu palsu belaka.
Hadist dikelompokkan berdasarkan beberapa kriteria :
(1)
dari segi jumlah periwayatnya, dalam menyampaikan sebuah hadist,
Rasulullah kadang berhadapan dengan banyak orang, kadang dengan
segelintir orang dan bisa juga hanya kepada satu orang saja. Orang-orang
tersebut kemudian menyampaikan secara turun-temurun. Hadist yang
disampaikan kepada banyak orang disebut hadist muttawatir, ini
klasifikasi hadist yang paling berbobot, karena diriwayatkan oleh banyak
orang, kecil kemungkinan bahwa banyak orang sepakat berbohong dan
mengeluarkan hadist palsu, kalau disampaikan kepada beberapa orang saja
disebut hadist mansyur tingkat keshahihannya berada dibawah hadist
muttawatir. Kalau disampaikan hanya kepada satu orang disebut hadist
ahad tingkat kepercayaan orang terhadap hadist ini tergantung kualitas
orang yang meriwayatkannya dan persambungan sanadnya (cara penyampaian).
(2)
Dari sisi penerimaan dan penolakan, hadist dibagi atas hadist shahih
yaitu yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh orang yang mempunyai
reputasi baik, isi hadist tersebut tidak syadz (tidak bertentangan
dengan Al-Qur’an dan hadist lain yang lebih kuat) dan tidak mengandung
cacat (tidak ditemukan adanya usaha penipuan dengan cara menyambung
sanadnya seolah-olah sampai kepada Rasulullah), ada juga hadist
hasansedikit dibawah hadist shahih, karena dalam periwayatannya
ditemukan orang-orang yang ‘agak diragukan’ kredibilitasnya, dan hadist
dhaif merupakan lawan dari hadist shahih, sanadnya terputus, orang yang
meriwayatkannya tidak dikenal, dll.
Bagaimana mengetahui seorang
yang meriwayatkan hadist adalah orang baik atau bukan..? dalam ilmu
hadist ada suatu cabang ilmu yang khusus menelaah sejarah para perawi
(yang meriwayatkan) hadist, yaitu Ilmu Riyal al-Hadist, membicarakan
tentang orang-orang yang membawa hadist mulai dari sahabat Rasulullah
sampai periwayat terakhir, sejarah hidupnya, reputasinya, dll.
Contoh cara menelaah suatu hadist.
Dari Hadist Turmudzi :
Diriwayatkan
dari Abu salamah yahya Ibn Khalaf, katanya, telah bercerita kepada saya
Bisyr Ibn al-Mufaddal, dari ‘Ummarah ibn Ghaziyyah, dari yahya Ibn
“Ummarah , dari Abu Sa’id al-Khudri, dari Nabi Muhammad SAW, katanya :
“Talqinlah mayitmu dengan Laa Ilaha Illallaah..”
Dari hadist Abu Dawud :
Telah
bercerita kepada kami, Musaddad, katanya dari Bisyr, katanya dari
‘Ummarah ibn Ghaziyyah, katanya dari Yahya ibn ‘Ummarah, katanya dari
Abu Sa’id al Khudri, katanyaq Rasulullah pernah bersabda : “Talqinlah
mayitmu dengan Laa Ilaha Illalaah..”
Dua hadist ini bunyinya
sama, namun dari para periwayatnya ada dua jalur, yang berpisah setelah
Bisyr ibn al-Mufaddal, yaitu satu kepada Abu Salamah kemudian
dikumpulkan oleh Tumudzi, satu lagi kepada Musaddad dikumpulkan oleh Abu
Daud.
Jalur Turmudzi kemudian dianalisa :, Al Turmudzi, tercatat
sebagai seorang yang mumpuni dan jujur hidup tahun 209 – 279 H.
Turmudzi menerima hadist dari abu Salamah, dalam kitab Tahzib al-tahzib
ditemukan nama lengkap tokoh ini Yahya ibn khalaf al-Bahili Abu salamah
al-Bishri, tidak disebutkan kapan lahirnya, namun tercatat tanhun
kematiannya 242 H, jadi Abu salamah dipastikan bertemu dengan Turmudzi.
Kemudian dianalisa orang diatasnya yaitu Bisyr ibn Al-Mufaddal, dalam
kitab Tahzib, ada 38 orang yang bernama Bisyr, tapi hanya 1 orang yang
ibn al-Mufaddal, tercatat sebagai tokoh yang menerima hadist dari banyak
ulama, tidak tercatat kapan lahirnya, namun wafatnya adalah tahun 187
H, jadi tidak jelas apakah Abu salamah pernah bertemu dengan Bisyr ibn
al-muhaddad. Setelah ditelusuri sampai keatas, maka hadist ini
digolongkan sebagai hadist hasan belum dikategorikan hadist shahih..
Tentu
ada pertanyaan, alangkah nyelimetnya.., apakah seorang muslim harus
meneliti seperti itu…?, kalau anda berminat tentu saja dipersilahkan..
anda terbuka untuk meneliti suatu hadist shahih atau tidak dengan cara
tersebut. Namun bagi kebanyakan muslim, sudah ada para Ulama Hadist yang
melakukan hal itu, dan mengeluarkan buku kumpulan hadist, yaitu :
1.
Imam Bukhari, tercatat ‘mengkoleksi’ ratusan ribu hadist baik yang
shahih maupun yang tidak, karena beliau memang dikenal punya ‘hobby’
demikian sejak masa mudanya. Imam Bukhari banyak menulis buku tentang
hadist, namun yang menjadi rujukan kaum Muslim sampai sekarang adalah
kitab ‘Al jami’ al Shahih’ atau populer disebut Shahih Bukhari’. Imam
Bukhari hanya memasukkan hadist yang dinilainya shahih saja ke dalam
bukunya tersebut, tercatat berjumlah 9.082 buah hadist, namun terdapat
hadist yang disebut ulang (hadist yang bunyinya sama tapi diriwayatkan
oleh jalur yang lain), kalau tidak diulang, jumlah hadistnya adalah
2.602 buah. Namun terdapat pula kritik atas Shahih Bukhari ini, terdapat
kira-kira 110 buah hadist yang diragukan para ulama setelahnya, karena
kualitas periwayatnya yang dianggap tidak memenuhi syarat, tapi menurut
Imam Bukhari sudah memenuhi syarat.
2. Imam Muslim, ada sekitar
20 buku yang ditulis oleh Imam Muslim, namun yang menjadi rujukan umat
Islam sampai sekarang adalah kitab ‘Shahih Muslim’ yang berisi 3.030
buah hadist. Namun ulama sesudahnya menyatakan bahwa tedapat
sekurang-kurangnya 620 buah diantaranya yang diragukan keabsahannya.
Contohnya adalah, terdapat hadist yang berbunyi : “ Barang siapa setiap
pagi makan tujuh biji kurma, tidak akan dilanda oleh bahaya racun atau
sihir pada hari itu hingga malamnya”. Ahmad Amin mengkritik hadist
tersebut karena dinilainya tidak masuk akal. Namun al Siba’I melakukan
pembelaan bahwa : ‘sebuah hadist dapat kita terima kebenarannya selama
sanadnya shahih dan matannya juga shahih. Persoalannya, pernahkan ahli
kedokteran melakukan penelitian untuk membuktikan kebenaran hadist
tersebut..??
3. Imam Abu Daud, menghasilkan kitab kumpulan hadist
dengan fokus pada bidang fiqih (hukum), yang terkenal adalah kitab
‘Sunan Abu Daud’ berisi 4.800 buah hadist. Beliau mengakui bahwa tidak
semua hadist dalam kitab tersebut adalah shahih, karenanya dia
memberikan catatan terhadap beberapa hadist lemah yang ada di dalamnya.
Dalam dunia Islam kitab Sunan Abu Daud ini, diperlakukan berada dibawah
kitab shahih Bukhari Muslim.
4. Imam Turmudzi, menghasilkan kitab
hadist ‘Sunan al Turmudzi, memuat 3.956 hadist, di dalam kitab tersebut
dimasukkan semua hadistr shahih, hasan (baik) dan dha’if, lalu setiap
hadist tersebut diberi catatan dan keterangan. Turmudzi adalah orang
yang pertama kali memunculkan istilah hadist hasan (baik) yaitu hadist
yang tidak layak digolongkan shahih, tapi juga bukan hadist dha’if.
5.
Imam al Nasa’I, menghasilkan kitan hadist ‘Al Sunan al Kubra’ di
dalamnya juga dimuat hadist shahih, hasan dan dha’if, lalu beliau
menseleksi kembali kitab tersebut untuk memilih hanya hadist yang shahih
saja, maka lahirlah kitab ‘Al Sunan al Mujtaba’, tapi ternyata dalam
kitab yang terakhir ini ditemukan juga hadist hasan dan dha’if.
6.
Imam Ibnu Majah, menghasilkan kitab ‘Sunan Ibnu Majah’ memuat 4.341
buah hadist, Ibnu Majah tidak memberikan catatan tentang hadist yang ada
dalam kitab tersebut, maka semua diserahkan kepada pembacanya untuk
menilai. Dr. Fuad abdul Baqi mencatat terdapat 199 hadist bernilai
hasan, 619 lemah dan 99 buah hadist munkar
Dalam dunia Islam,
kitab hadist yang terbaik sampai sekarang adalah oleh Imam Bukhari dan
Imam Muslim, beliau menjamin bahwa hadist yang ada dalam buku tersebut
dikategorikan sebagai hadist shahih. Jadi ‘trend’ orang orang termasuk
non muslim dalam forum ini, mengutip suatu hadist, lalu diberi
keterangan dalam kurung ‘Bukhari Muslim’, maka salah satu untuk
menchecknya, silahkan baca kitab karangan Imam Bukhari yaitu ‘Shahih
Bukhari’ dan karangan Imam Muslim yaitu ‘Shahih Muslim’, ada nggak
hadistnya disana, kalau ada, apakah bunyinya sama.
Bagi saya
pribadi, tidak perlu mempedulikan gugatan non muslim soal shahih atau
tidaknya suatu hadist, tentang ‘sekian orang yang masuk surga sekian
yang masuk neraka, atau tentang sekian golongan umat Islam, cuma satu
golongan yang masuk surga. dll’, kalau mereka bertanya, suruh saja
membuka sendiri kitabnya dan mencarinya sendiri, apa benar yang dikutip
tersebut ada dalam kitab hadist yang bersangkutan. Yang perlu dipedomani
dari suatu hadist adalah : KETERANGAN UNTUK MENJALANKAN APA YANG
DIPERINTAHKAN OLEH AL-QUR’AN, sesuai yang telah dicontohkan oleh
Rasulullah, sehingga apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah dalam
khotbahnya pada haji Wada’ tersebut terlaksana :
“Sesungguhnya,
aku tinggalkan kepadamu sesuatu yang jika engkau berpegang dengannya
niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya, suatu urusan yang terang
nyata, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”
source : http://www.muslim-menjawab.com/