Study Excursie dan Eksekusi Diriku



            Aku tak tahu harus sedih atau senang. Salah satu sahabat terbaikku sebenarnya sudah mengingatkan aku tentang hal ini. Dialah makstron yang sering membantuku menyelesaikan masalah seputar keagamaan. Dia menanyakan kepastianku mengikuti Study Excursie atau tidak. Dia menerangkanku bahwa pasti nanti akan terjadi “ikhtilat” atau campur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa batasan yang dapat memungkinkan mereka akan melakukan interaksi yakni berpandangan, berbicara, berdesakan, dan lain-lain. Namun apa daya aku ingin sekali ikut dalam acara ini karena ingin mengunjungi “calon” tempat aku bekerja nanti. Bagaimana peran apoteker dalam industri, instansi pemerintah, atau rumah sakit. Lagian temen2 takmir fakultas juga pada ikutan, pikirku begitu. Akhirnya dengan berniatkan ingin mencari ilmu, kumantapkan hatiku menuliskan namaku dalam list nama peserta SE 2016.  
          Waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Tepat tanggal 26 januari 2016 kami berangkat bersama-sama sekitar 200 orang terbagi dalam 5 bis. Perjalanan terombang-ambing dalam bis sekitar 1 hari 1 malam untuk bisa mencapai daratan Bandung. Pada awalnya, aku mendapat tempat duduk belakang yang dekat dengan para laki-laki. Barisan depan sudah dipenuhi dengan teman-teman sepermainan yang mereka membentuk kelompok2 begitu jadi tempat duduknya sudah dibooking duluan untuk orang dalam kelompok mereka. Hal ini dikarenakan pemilihan tempat duduk tidak diatur sehingga terserah mau duduk dengan siapa aja. Cewek-cowok juga gapapa. Hmmm dengan hati terpaksa aku dan teman partnerku duduk di belakang. Namun pertolongan Allah sungguhlah dekat. Tiba-tiba temanku yang merupakan PJ bus bilang bahwa aku disuruh pindah ke bagian depan karena dia ingin duduk di belakang saja agar lebih leluasa dengan teman-teman cowoknya. Alhamdulillah, batinku.
          Kegelisahanku selanjutnya adalah diputarnya musik-musik cengeng yang sarat akan makna duniawi dan percintaan terlarang. Aku yang merupakan “mantan pecinta musik” merasa bernostalgia dengan lagu-lagu yang diputar.  Kucoba kuhiraukan, namun alunan iramanya terngiang di kepalaku. Apalagi teman sebelahku sangat antusias untuk ikut menyanyi bareng. Satu dua hari aman, namun hari ketiga dan seterusnya apa daya aku larut dalam acara karaokean bareng itu. Aarghh, aku tak menginginkan ini. Sia-sia dong perjuanganku untuk tidak memperdengarkan musik selama 1 semester belakangan ini. Hiks banget lah.
          Tak sekedar itu, puncaknya adalah di malam keakraban yang dilakukan di Lembang. Konsep acara tersebut yang mengusung tema ‘night to remember’ yaitu malam penganugrahan kepada beberapa teman yang mendapat award. Konsepnya seperti acara award yang kita lihat biasanya di televisi. Yakni cewek-cowok datang berdua membacakan nominasi. Hal ini juga dilakukan pada acara tersebut. Pasangan yang diminta adalah yang sekarang menyandang status pacaran, atau diindikasikan sama-sama suka dan sering dijodoh-jodohkan. Saat mereka berjalan menuju podium, semua penonton menyuruh mereka untuk bergandengan lah, di cie-cie in lah, atau dipesenin “longlast yaah”. Aku gak tau maksut mereka itu apa. Bukankah mereka itu sedang melakukan maksiat, tapi kenapa semua orang mendukung kemaksiatan itu. Yang bilang seperti itu gak hanya nonis lo, yang islam juga. Nah, sedihku disitu :(
           Mungkin jika ada teman seangkatan yang membaca tulisanku ini akan mengira bahwa aku adalah orang yang fanatik islam. No, aku hanya ingin menjalankan syariat-syariat islam dengan baik. Karna aku takut akan siksaan neraka. Karna aku ingin mendapat ridho-Nya. Aku pun tak peduli orang lain melihatku seperti apa. Saat SE, aku masih berkerudung panjang, memakai rok, dan memakai kaoskaki yang mungkin mereka berfikir itu akan menyulitkan pergerakanku. Tidak, aku merasa aku lebih terjaga. Daripada kerudung pendek yang dengan sekali hembusan angin saja sudah terlihat rambutnya. Hehe. Lalu fungsi kerudungnya apa gitu lo.
          Aku tak tahu harus sedih atau senang. Perkiraan makstron benar. Ikhtilat itu nyata, dan tidak dapat dihindarkan kecuali kita tidak mengikutinya. Dari sisi inilah, aku merasakan penyesalan. Namun seandainya aku tidak ikut, aku tidak akan mendapat manfaat dari SE ini. Yakni bisa tahu bagaimana apoteker bekerja nanti. 

Simak juga  Apa itu ikhtilath

0 komentar:

Post a Comment

 
Sang Pemimpi Blog Design by Ipietoon